tujuhbelas.id, KUTAI KARTANEGARA – Jumlah anak yang tercatat mengalami stunting di Desa Rapak Lambur menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang disampaikan Puskesmas Mangkurawang, jumlahnya berkurang dari sekitar 15 anak menjadi sembilan anak pada pencatatan 2026.
Ahli Gizi Puskesmas Mangkurawang, Dhila, mengatakan perkembangan tersebut menjadi salah satu catatan dalam pemantauan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas. Meski demikian, ia mengingatkan, perubahan angka perlu terus dipantau untuk memastikan kondisi pertumbuhan anak tetap membaik.
“Kalau di Rapak Lambur, tahun sebelumnya sekitar 15 anak. Sekarang dalam data yang kami miliki tercatat sembilan anak,” ujarnya.
Dhila menyebut, perbandingan itu menunjukkan adanya pengurangan sekitar enam anak atau sekitar 40 persen dari total keseluruhan bayi yang sebelumnya mengalami stunting di Desa Rapak Lambur.
Ia menjelaskan, dukungan pemerintah desa turut membantu pelaksanaan kegiatan pemantauan dan penanganan di tingkat masyarakat. Keterlibatan pemerintah desa dinilai penting agar kegiatan kesehatan balita dapat berjalan dengan dukungan lingkungan setempat.
“Pemerintah Desa Rapak Lambur mendukung kegiatan yang berkaitan dengan pemantauan anak. Dukungan seperti ini membantu kami dalam menjalankan kegiatan di lapangan,” katanya.
Menurut Dhila, penanganan stunting memamg tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan tenaga kesehatan. Keterlibatan keluarga dan lingkungan juga diperlukan, terutama untuk memastikan anak mendapatkan pemantauan pertumbuhan secara rutin.
“Peran orang tua tetap sangat penting. Anak harus dibawa ke Posyandu setiap bulan supaya berat dan tinggi badannya bisa terus dipantau,” terangnya.
Ia mengungkapkan, apabila hasil pengukuran menunjukkan adanya penyimpangan pertumbuhan, kader dan petugas kesehatan akan melakukan tindak lanjut sesuai prosedur. Anak yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dapat dibawa ke Puskesmas untuk menjalani pengukuran ulang dan penilaian status gizi.
“Kalau ditemukan masalah dalam pertumbuhannya, jangan menunggu sampai kondisinya semakin jauh. Bawa ke Puskesmas supaya bisa diperiksa dan ditentukan penanganannya,” ungkapnya.
Dhila menegaskan, penurunan jumlah dalam pencatatan perlu diikuti dengan upaya menjaga agar anak-anak yang telah mengalami perbaikan tetap tumbuh sesuai standar. Pemantauan juga diperlukan untuk mencegah munculnya masalah pertumbuhan baru.
“Jangan sampai setelah ada perbaikan, pemantauannya justru berhenti. Anak tetap perlu diperhatikan pertumbuhannya, terutama pada masa awal kehidupan,” tutupnya. (kn/rhi)






