Skrining Anemia Remaja Jadi Bagian Pencegahan Stunting di Anggana

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Pencegahan stunting di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), turut menyasar kelompok remaja melalui pemeriksaan kesehatan dan upaya pencegahan anemia. Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan kesehatan calon ibu dan generasi berikutnya agar persoalan gizi tidak berlanjut hingga masa kehamilan dan pertumbuhan anak.

Ahli Gizi Puskesmas Sungai Mariam, Ademai Nurhayati mengungkapkan, Puskesmas menjalankan pemeriksaan anemia terhadap pelajar, terutama bagi murid kelas 1 SMP dan kelas 1 SMA yang berada di wilayah kerja Puskesmas Sungai Mariam Kecamatan Anggana.

Bacaan Lainnya

“Kita rutin melakukan skrining anemia untuk anak-anak kelas satu SMP dan kelas satu SMA,” ujarnya.

Ademai mengatakan, upaya pencegahan memang mesti dilakukan sejak usia sekolah. Selain pemeriksaan anemia, edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan kecukupan zat besi juga menjadi bagian dari kegiatan yang dilakukan di sekolah tersebut.

Menurutnya, pemeriksaan itu bertujuan mengetahui kondisi kesehatan remaja sekaligus mendeteksi lebih awal apabila ditemukan indikasi anemia. Kondisi itu perlu mendapat perhatian karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan remaja, termasuk ketika nantinya memasuki usia reproduksi dan kehamilan.

“Jadi kita tidak menunggu mereka sudah menjadi ibu hamil dulu baru memperhatikan masalah gizinya. Dari remaja juga sudah kita lakukan pemeriksaan,” katanya.

Ademai berujar, selain skrining, Puskesmas juga menjalankan pemberian tablet tambah darah kepada pelajar. Tablet tersebut diberikan untuk persediaan selama satu bulan dan dikonsumsi secara berkala sesuai jadwal yang ditetapkan dalam kegiatan sekolah.

“Tablet tambah darah itu diberikan setiap bulan, untuk diminum satu kali setiap minggu,” jelasnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan konsumsi tablet biasanya dikoordinasikan dengan pihak sekolah. Salah satu waktu yang digunakan adalah hari Jumat setelah kegiatan olahraga, dengan catatan siswa sudah sarapan agar pelaksanaan program lebih mudah dipantau.

“Kita biasanya koordinasikan dengan sekolah. Ada yang minumnya hari Jumat setelah olahraga, tetapi anak-anak juga harus sudah sarapan,” papar Ademai.

Ia menilai keteraturan konsumsi tablet tambah darah perlu disertai pemahaman mengenai manfaatnya. Sebab, program pencegahan anemia tidak cukup hanya dengan membagikan tablet, tetapi juga membutuhkan kepatuhan dan pengawasan agar manfaatnya dapat diperoleh.

Menurut Ademai, pencegahan stunting membutuhkan pendekatan jangka panjang. Perbaikan gizi sejak remaja, kesehatan selama kehamilan, hingga pemenuhan kebutuhan gizi anak setelah lahir merupakan rangkaian yang saling berkaitan.

“Jangan sampai tabletnya sudah diberikan, tetapi tidak diminum. Kita perlu mengedukasi anak-anak supaya mereka memahami kenapa harus mengonsumsi tablet tambah darah,” tutupnya. (adv/diskominfokaltim/stg/zal/kn1/rhi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *